Kata onomatope berasal dari Yunani. Onomatope adalah kata tiruan bunyi. Untuk lebih menghidupkan sebuah adegan, penulis sering harus menuliskan suatu bunyi baik dari hewan, benda, ataupun suatu gerakan.
Setiap daerah atau negara sering memiliki tiruan bunyi yang berbeda dari objek yang sama.
Ini beberapa tiruan bunyi atau onomatope dari berbagai sumber dan karangan saya. Akan saya tambahi dan koreksi seiring waktu berjalan ☺
Ayam: kukuruyuk, kok kok
Anjing: guk guk
Kucing: meoong, ngeoong
Kuda: Ngiiik ngiik (kok kayak suara sakit atsma, ya?)
Harimau: auuumm ...
Burung: ciit ciiit
Cicak: ck ck ck
Angin: Wusss
Daun kering terinjak: krosak
Air:
- menetes: tik tik, tes tes
- mengucur: grujuk grujuk
-
Pedang beradu: tring tring
Pedang menusuk: traaash, jleb
Ombak: zraaash
Sandal/sepatu menggesek lantai: sreet sreet
Langkah kaki: Tap tap.
Langkah kaki bersepatu dengan sol keras: Tak tak/tuk tuk/duk duk
Gelas pecah: prang
Benda agak kecil dan banyak tumpah: pyar
Minggu, 07 Juli 2019
Sabtu, 27 Mei 2017
KISAH DI UJUNG KASHMIR MERAH
Kain kashmir itu Ayah usap beberapa kali. Rien tidak pernah paham kenapa?
Rien sangat menyukai pashmina
dari kain kashmir itu. Kainnya halus dan jatuh. Pasti sangat nyaman untuk jadi
aksesoris di lehernya yang panjang. Banyak teman Rien yang melilitkan pashmina
di leher mereka. Gaya. Apalagi kain itu asli dari domba-domba lembah Kashmir.
India. Rien pernah diam-diam mengambilnya dari lemari Ayah. Dia berkaca dengan
kashmir panjang melilit lehernya. Pashmina itu sangat cocok dengan dagunya yang
runcing, hidungnya yang tinggi, dan wajah yang dinaungi bulu mata lentik. Rien
terkikik geli. Dia merasa menjelma jadi Aiswarya Rai.
“Pinjam dong, Yah. Semalam saja.” Rien mendekati ayahnya
yang termangu.
Ayah menggeleng.
“Kamu masih punya yang lain, kan?” Tangan Ayah terjulur ke rak paling atas dan
menyimpan kain kashmir merah itu serupa menyimpan benda berharga.
Rien merengut. Padahal pashmina kashmir itu cocok sekali
dengan gaun yang akan dipakainya untuk acara promnight.
“Mungkin itu kado dari …,” Amerul meringis, tak tega
mengungkapkan pikirannya.
“Apa?” Alis tebal Rien naik. Mata gelapnya melebar, “Mantan
pacar Ayah? Selingkuhan Ayah? Klise, ah, ceritanya!”
Rien kadang jadi berpikir yang tidak-tidak. Tapi Bunda hanya tersenyum jika ditanya.
“Kebanyakan nonton gosip, ah!” Bunda mencubit hidung
Rien.
#####
Kashmir merah itu sekarang
ada di atas meja. Menutupi meja dengan sempurna. Ada inisial nama yang Rien
lihat di ujungnya. MM. Kenapa ia tak melihat sebelumnya, ya?
"Bunda …!" Rien menatap
inisial di ujung kashmir itu dengan marah. “MM? Bunda tahu siapa? Perempuan
pemilik pashmina ini, kan?”
Bunda hanya mengangguk.
Meremas pundak Rien dengan sayang.
“Bunda nggak cemburu?” Rien heran melihat ekspresi wajah
Bunda. Tak ada kemarahan seperti yang biasa ia tunjukkan pada Amerul jika cowok
itu membicarakan cewek lain.
“Cemburu sama siapa?” Bunda geli.
“Tante Dini pernah cerita kalau kashmir ini milik
seorang perempuan. Mantan wartawati!” suara Rien penuh tekanan.
Bunda membelai rambut Rien. Lalu mengecupnya.
#####
Rien tahu bagaimana perasaan
seorang perempuan. Rien sudah dewasa, sebentar lagi menyandang gelar mahasiswi.
Membayangkan perasaan Bunda jika melihat Ayah memandangi dan mengusap-usap
kashmir hadiah dari perempuan lain selalu membuat emosinya memuncak.
“Masih memikirkan kashmir
penuh rahasia itu?” Amerul tersenyum. Menatap gadis di sebelahnya yang
mengatupkan bibir rapat.
Kepalanya berpaling ke arah
Amerul. Hela napas Rien terasa berat.
“Kemarin aku liat ayahmu.” Amerul duduk di salah satu
bangku. Mereka sedang menikmati es dawet cincau dan siomay di salah satu
shelter dekat pintu depan GOR Manahan. “Di Kopi Tiam.”
Rien mengedikkan bahu. Tak antusias. Bukan berita
penting. Ayahnya biasa makan di luar saat jam kerja. Mulutnya mengunyah kentang
pelan.
“Dia dengan seseorang.”
“Perempuan?” Rien menghadapkan badan ke Amerul penuh
minat.
“Nggak, sih. Laki-laki. Ganteng dan … kerenlah.”
“Ih, kamu naksir dia?” Rien menahan tawa.
“Ngacau!”
Rien terbahak. Amerul menjitak dengan gemas, sekaligus
lega. Dia paling senang mendengar tawa Rien yang renyah. Sudah lama ia
kehilangan tawa itu.
“Justru aku penasaran. Siapa lelaki yang bersama ayahmu
itu.” Amerul menelan cincaunya. “Soalnya ayahmu berkali-kali menepuk-nepuk
lengannya. Mereka kelihatan seperti …,” Amerul menggaruk tengkuknya.
“Seperti apa? Jangan sepotong-sepotong gitu. Bikin
penasaran!”
“Agak aneh aja dua pria duduk berdekatan hmm … mes….”
Amerul belum sempat melanjutkan kalimatnya. Kepalan
tangan mungil Rien bertubi-tubi mendarat di pundaknya. “Ameruuuulll! Jangan
ngelantur! Ayahku lelaki sejati. Pria normaaalll!” Rien terus memukul sementara
Amerul meringis menahan sakit.
“Sebentar,” Amerul menahan tangan Rien. “Aku seperti
familiar dengan wajah pria itu. Satu lagi, untuk apa sehelai kain merah di
depan mereka?”
#####
“Boleh tanya sesuatu, Bun?” Rien hati-hati bicara. Bunda
sedang menyemprotkan vitamin pada koleksi tanamannya di kebun belakang.
“Tanya apa, sih? Biasanya kamu lebih suka tanya ke
Ayah.”
Rien menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering.
“Jawab jujur, ya, Bun. Selama ini Ayah gimana, sih, Bun?
Maksud Rien, Bunda bahagia, nggak, jadi istri Ayah?”
“Ya ampuuun, Rien. Ada apa, sih?”
“Jawab aja, Bun.” Rien membuntuti Bunda yang berpindah
dari satu tanaman ke tanaman yang lain.
Bunda menatap Rien bingung.
“Perempuan mana, sih, yang tak bahagia punya suami
seperti ayahmu. Penuh perhatian, setia, selalu ada saat dibutuhkan. Paket
lengkap, deh.” Mata Bunda berkedip. Ada kilau cemerlang. Tanda kebahagiaan.
“Kemarin Amerul liat
Ayah bersama seorang lelaki,” Rien melirik Bunda, “di Kopi Tiam.”
Bunda menghela napas. “Ayah cerita ke Bunda.”
“Siapa dia?” Rien tak sabar ingin tahu.
“Sahabat lama Ayah.”
“Hanya sahabat?” kejar Rien.
“Maksud kamu?” Bunda mengernyit.
“Nggak ada hubungan lain? Kenapa Ayah membawa kain
kashmir itu juga?”
Bunda tertegun, dan segera menutupinya dengan senyum.
Samar. Tangannya menggeser pot yang ditanami pohon suplir, menyapu semut yang
bersembunyi di bawahnya. Meski sekilas, Rien dapat melihat mata Bunda mengerjap.
Rien terpekur. Dia tak berani mengejar Bunda dengan rasa penasarannya. Rien tak
ingin melihat wajah Bunda berkabut. Senyum Bunda adalah segalanya.
#####
“Ayah bukan seperti yang kamu duga. Tapi kashmir itu
memang ada ceritanya.” Ayah melirik Bunda sekilas.
“Sebelumnya Ayah dan Bunda ingin kamu tahu, bahwa apapun
ceritanya nanti, tetaplah berpikir tenang, tidak emosi.” Jakun Ayah naik turun.
“Kamu sudah dewasa. Ayah yakin kamu bisa bertindak bijak. Satu lagi. Kamu
adalah cinta kami, apapun yang terjadi.”
Rumah itu sunyi
tapi tercipta gemuruh di dada masing-masing.
“Dulu Ayah punya sahabat. Dia wartawati. Suatu hari dia
bertugas meliput ekspedisi puncak Himalaya. Dia memang spesial di bidang itu. Umur
manusia memang rahasia. Saat di kilometer 5000 salju longsor. Banyak pendaki
yang menjadi korban. Dia salah satunya.” Ayah menghela napas dalam-dalam.
Suaranya parau.
Rien mendesah prihatin. Bunda mengusap pipinya
berkali-kali, bahkan sebelum Ayah bercerita.
“Suaminya syok berat. Apalagi mereka memiliki anak yang
baru berumur dua tahun. Dia memutuskan pergi ke luar negeri. Leiden. Untuk
menghapus semua kenangan tentang istrinya. Meski kenangan tak bisa kita hapus
dari hidup kita, tapi kita bisa mengisinya dengan kenangan baru.”
“Anaknya dibawa?” sela Rien.
Ayah bersandar pada sofa. “Ini bagian yang paling sulit,
Rien. Tapi Ayah harus cerita yang sebenarnya.”
Rien merasa aneh. Seperti ada bongkahan es menyelimuti
dadanya. Punggungnya tegak. Bunda menggenggam tangan Rien makin erat.
“Anak itu mengingatkannya pada istrinya. Kenangan yang
ingin ia lupakan. Dia meninggalkannya. Bukan, dia hanya ingin anaknya tumbuh
bahagia. Itu artinya tidak bersamanya. ”
“Bagaimana bisa?” Bibir Rien mengerut.
Ayah menyapu rambut ke belakang dengan sepuluh jarinya.
Mengambil napas dalam-dalam. Mengontrol emosi.
“Beberapa tahun kemudian dia pulang dan berniat membawa
anaknya. Tapi urung. Dia tak ingin merusak kebahagiaan anaknya. Meskipun keinginan
untuk memeluk dan kerinduan yang sangat melanda tapi dia memilih mengalah.
Kebahagiaan anaknya lebih penting. Dia menunggu waktu yang tepat. Kemarin dia
datang menemui Ayah, karena dia merasa ini waktu yang tepat.”
“Apa hubungannya dengan kashmir yang disimpan Ayah?” Kain
kashmir penuh rahasia itu menggoda pikiran Rien.
“Tim SAR yang mencari para pendaki menemukan kain
kashmir merah. Inisial di ujung kain itulah yang menunjukkan kalau itu milik
wartawati sahabat Ayah.”
“Jadi, itu milik istri lelaki yang Ayah temui di Kopi
Tiam?”
Ayah mengangguk. Rahangnya mengeras. Bibirnya berkedut.
Gelisah.
“MM. Inisial di kain itu. Madhavi Mohan.”
“Seperti namaku?” Rien bergumam. Kepalanya berdenyut
memikirkan ujung cerita Ayah.
Waktu seperti membeku. Tak ada suara. Tak ada yang
bergerak.
“Itu memang namamu.” Ayah makin tegang.
“Harusnya RMM!” Kepala Rien makin berdenyut.
“Rien adalah nama yang kami tambahkan.”
Isak Bunda memecah ruang bisu.
“Jadi ….” Air mata Rien tumpah. Dia menatap orang tuanya
dengan mata membelalak. Ada luka, kesedihan, bercampur tak percaya dari
sorotnya. Bunda memeluk Rien erat. Rien kaku seperti kayu.
“Kamu tetap anak
kami, Sayang. Meski bukan tumbuh dari rahim Bunda, tapi kamu tumbuh dari cinta kami,
dari jiwa kami.” Bunda terisak.
Rien balas memeluk
Bunda. Erat.
Cerpen ini ngendon luamaaa di folder. Ditulis waktu awal-awal ikut kelas Penulis Tangguh. Pernah saya kirim ke majalah tapi nggak dimuat. Memang alur dan karakter tokohnya ancuur, sih. Endingnya juga nggak jelas banget. Ketawa sendiri bacanya. Daripada mubazir dan menuhin kompi, post di sini aja.
Sabtu, 20 Mei 2017
Gagal Lagi! Lalu Harus Bagaimana?
Gagal lagi dalam lomba. Aduh gimana ya? Nyeri, pedih, galau? Pastilah. Wajar. Ada yang galaunya hanya satu dua jam bahkan kurang, ada yang berhari-hari, bahkan ada yang down dan meratapi diri. "Aku memang nggak bakat, aku nggak mampu, ini bukan duniaku, aku mau ganti profesi." Ya ... ya ... ya .... oke. Tarik napas, buang napas.
Biasanya apa yang kita lakukan? Curhat. Yeps, curhat sama teman yang sama-sama kalah, sama temen yang nggak ikut lomba, atau siapa saja yang saat itu kita anggap nyaman buat dicurhati. Lalu keluarlah segala keluhan dan tangis. Teman kita akan bilang "puk-puk, I feel you, santai, akan ada event lain, selalu ada hikmah, ini hanya keberhasilan yang tertunda, endebre endebre endebre ...."
Plong? Bisa jadi, tapi bisa juga tidak. Apalagi kalau sudah berkali-kali kalah dan kalau teman-teman seperjuangan kita yang menang, sementara hanya kita sendiri yang kalah. Nyuuuttt! Merasa bodoh, ya? Kalau begitu, kayaknya hanya diri kita yang bisa menghiburnya.
Menyikapi kekalahan memang tak mudah, kok. Bersyukurlah untuk kalian yang bisa melupakan dalam sekejap.
Mungkin langkah-langkah ini bisa sedikit membantu untuk tetap tegar dan menerima dengan lapang kegagalan kita.
1. Berdoa
Berdoa itu yang utama dan pertama, dong. Berdoa apa? Berdoa supaya kita tetap di jalan lurus #bleh. Just kidding. Berdoa supaya kita memiliki hati ikhlas, ridho. Sebab selama kita nggak ikhlas, apapun yang kita lakukan nggak bakal bikin kita move on.
2. Curhat
Mending curhat sama teman daripada marah-marah di socmed. Memalukan, tahu! Mungkin nasihat teman itu klise, tapi percayalah itu sangat membantu kita bisa bernapas dengan normal.
3. Berkaca, berkaca, berkaca
Mirror mirror on the wall, who is the most beautiful in the world? Beneran, kok, sebaiknya kita berkaca. Lalu bertanya pada si kaca, apakah kita sudah melakukan usaha terbaik? Apakah kita sudah berkarya yang terbaik? Apakah ini apakah itu.
Coba deh ingat-ingat lagi apakah kita sudah melakukan proses dengan maksimal dan optimal? Jangan-jangan waktu mengikuti lomba pun niat kita hanya iseng, daripada enggak ikut, kebetulan punya naskah yang sesuai tema, kebetulan lagi ngak ada kerjaan, etcetera. Kalau gitu, ngapain nangis-nangis waktu kalah? Kan cuma coba-coba. Kan cuma iseng-iseng. Padahal pesaingnya ratusan bahkan ribuan. Teman kita yang menang itu sudah melakukan upaya terbaiknya. Niatnya bulat sejak awal.
Wajar dong kalau kita kalah! Wajar dong kalau kita nggak menang! #jleb
Jumat, 09 Desember 2016
Gadis Mangrove di Majalah Gadis
GADIS
MANGROVE
Oleh Rien Dj
![]() |
| Gadis Mangrove, dimuat di Majalah Gadis edisi ke-23, November 2016 |
Suara (burung_edit.)
rana yang dilepas terdengar di tengah kesunyian hutan bakau. Aku mendongak dari
aktivitas mengambil
buah bogem atau pedada yang berjatuhan di tanah berlumpur. Lagi-lagi aku melihat cowok itu.
Seperti kemarin, dengan kamera moncong panjang dan tripod. Aku meneruskan pekerjaan.
Pesanan sirup sedikit meningkat di musim panas. Syukurlah buah mirip kesemek dengan ujung
datar itu sedang berbuah lebat.
Klik!
Lagi-lagi aku mendengar
suara rana dilepas. Kali ini, aku tak
menoleh karena tahu siapa sumbernya. Meski dalam hati tertera pertanyaan, siapa
cowok itu dan mengapa dua hari ini selalu datang ke kawasan hutan mangrove?
Usianya sepertinya tak terpaut jauh denganku.
Harusnya dia masih sekolah atau paling tidak kuliah,
kecuali dia bekerja sambilan sebagai fotografer. Namun, fotografer
yang datang ke sini biasanya menyapaku
dan bertanya banyak hal demi kebutuhan hasil
jepretannya. Cowok itu hanya memotret,
kadang menatapku sekilas lalu sibuk mengintip lubang
kameranya.
“Kenapa
nggak minta Ayah
saja yang mengambil bogemnya?” Ayah menyampirkan
topi di gantungan dekat pintu. “Katamu
sekarang sedang banyak tugas sekolah?”
Aku
tersenyum. “Ayah,
kan, sedang sibuk menerima tamu.” Sebetulnya bukan itu
satu-satunya alasanku.
Berada di dalam hutan bakau, menyentuh dedaunannya yang hijau bagiku seperti bercanda dengan
sahabat. Kadang aku berbicara
dengan kepiting, udang, atau menimpali cericit burung. Hutan mangrove ini telah
menjadi jiwaku.
Juga jiwa Ayah
dan Ibu.
Ada sejarah pahit sebelum akhirnya Ayah berjanji
untuk membaktikan hidupnya demi hutan mangrove. Ayah dulu
melakukan kesalahan dengan mengabaikan peringatan Ibu tentang
efek menebang pohon mangrove hingga habis. Ayah baru tersadar setelah satu
pemukiman hancur diterjang gelombang besar sebab tak ada akar-akar mangrove yang
menjadi pemecah ombak besar.
Aku segera beranjak ke dapur dan
membantu Ibu mengupas buah bogem satu per satu sambil menunggu kedatangan Mbak
Ninuk dan Bulik Dian. Keduanya warga di sekitar hutan mangrove yang masih setia
membantu kami di dapur. Membuat sirup dari bogem, membuat cake tepung buah tancang
dan berbagai olahan makanan dari hutan mangrove.
“Tepung tancang kita sudah mulai menipis. Ibu mau mencoba
mempraktikkan cake tancang basah seperti yang kamu tunjukkan kemarin,” kata Ibu sambil menambahkan air ke dalam
panci.
Membuat tepung tancang memang membutuhkan waktu lebih lama. Kemarin aku menemukan
cara membuat cake tancang basah
setelah browsing seharian. Artinya
tancang tak harus dijadikan tepung kering dulu.
***
Hari
ini aku mengikuti Ayah naik perahu motor
menyusuri pantai. Sementara aku akan
mengumpulkan buah tancang dari hutan mangrove yang lebih jauh, Ayah akan mengecek
apakah masih ada penduduk yang menebang pohon bakau. Ayah sudah sering memberi
pengarahan bahaya menebang hutan mangrove. Namun, tak semua memiliki kesadaran
yang sama. Ini
bukan pekerjaan mudah. Ayah tahu persis
itu.
Aku
sudah duduk di dalam perahu ketika tiba-tiba cowok
kamera itu muncul dan langsung meloncat ke dalam perahu, membuat perahu sedikit
oleng. Aku mengernyit. Apa-apaan
cowok itu asal numpang perahu Ayah?
“Sudah
banyak objek foto yang berhasil dijepret?” tanya Ayah ramah.
“Lumayan,
sih, Pak,” cowok itu memperbaiki duduknya saat Ayah menyalakan mesin dan perahu meluncur
membelah pantai.
“Coba
nanti ikut Iera ke hutan yang di sana. Mungkin Nak Iko bisa dapat objek berbeda
dan lebih menarik.”
Oh, jadi nama cowok itu
Iko? Nah, sejak kapan Ayah dan
Iko berkenalan? Mengapa mereka tampak sudah akrab?
“Iera
kamu bisa minta dipotret sama Nak Iko. Mumpung ada fotografer di sini,” kata
Ayah sambil tertawa.
Aku
mencelupkan tangan ke dalam air hingga membentuk alur
di belakang. Kebiasaanku tiap menaiki perahu.
“Apaan, sih, Ayah. Iera, kan, nggak suka jual tampang.”
“Emang
laku gitu tampang kamu dijual?” Tawa Ayah pecah di antara deru mesin perahu.
Aku melirik tajam Iko yang ikut tertawa
pelan.
“Ih,
Ayah!” Aku mengerucutkan bibirku tanda kesal. “Fotografer
yang datang ke sini,
kan, nggak cuma baru kali ini.”
Selasa, 09 Agustus 2016
Go Green - Percikan Majalah GADIS
Naskah untuk Percikan di Majalah GADIS ini aslinya berjudul "Go Green, Sih ...". Ternyata ketika tayang kata "sih" nya dibuang dan jadilah judul "Go Green" saja. Naskah berjumlah 600-an kata ini menjadi kejutan bagi saya dan teman-teman di komunitas Penulis Tangguh karena hanya dalam waktu 2 pekan menunggu sudah dimuat. Alhamdulillah. Honor pun cair sesuai jadwal dan jumlah nominalnya sangat lumayan.
Go
Green
Oleh
Rien Dj
“Enggak
usah pakai tisu, Ma. Mulai sekarang pakai sapu tangan aja.”
Mama
pusing dengan ceramah Mia. Dari mulai tak boleh beli tisu, ke mana-mana bawa
botol minum, beli sayur bawa mangkuk sendiri alih-alih pakai plastik dari si
penjual seperti biasa.
“Duh,
ribet.” Itu keluh Mama dan si Jo, adik Mia.
“Ini
demi masa depan bumi kita. Sekarang bumi mulai rusak karena ulah kita. Nebang
pohon sembarangan. Sekarang malah ngebakar hutan. Mereka tak sadar kalau ngancurin masa depan!” Bibir Mia
bergerak cepat, matanya melebar, tangannya bergerak ke sana ke mari.
Mama
dan Jo manggut-manggut.
“Mulai
sekarang, Mama tak boleh buang plastik sembarangan. Lebih baik, sih, didaur
ulang. Karena plastik butuh waktu 500 tahun untuk bisa hancur, padahal kita
pakai paling cuma 5 menit!”
Mama
dan Jo berpandangan. Kening mereka berkerut.
“Berita
buruknya lagi, Indonesia menyumbang sampah plastik 10 persen di dunia.
Penyumbang terbanyak setelah China. Malu, kan, kita?”
Mama
dan Jo manggut-manggut. Lagi.
Jadi,
sudah hampir sebulan ini Mia ikut dalam kelompok Ijoku. Itu karena, ketua Ijoku
adalah Dana. Cowok cool, yang ke
mana-mana menaiki sepeda federal-nya plus helm ala orang luar negeri. Sudah
lama Mia pingin kenal, tak sekadar mengangguk ketika berpapasan. Sebetulnya Mia
naksir juga, sih. Meski tinggal satu kompleks, tapi Dana tidak satu sekolah
dengannya. Mau pura-pura pinjem buku atau soal tes semesteran, juga tak
mungkin, karena Dana satu tingkat di atas Mia.
Ketika
ada brosur yang dibawa mamanya sepulang PKK, Mia tak perlu berpikir lagi.
Brosur berisi perekrutan anggota baru Ijoku. Duuh, Mia jadi semangat. Semangat
ketemu Dana, sih, sebetulnya.
Waktu
Dana menjelaskan sejarah Ijoku, misi dan visi, serta aksi yang dilakukan, dengan
antusias Mia menyimak, tapi wajah Dana yang lebih dia hafal daripada isi
penjelasannya. Sampai-sampai Dana senyum-senyum setiap kali melirik Mia.
“Aku
bangga sama kamu, Mia,” puji Dana saat mereka menyebar brosur berisi ajakan
menghindari pemakaian plastik, sekaligus memunguti sampah plastik di seluruh
kompleks.
“Kenapa
memang?” Mia sedikit gugup karena pujian Dana, sekaligus tak bisa menahan
senyum.
“Aku
pikir kamu anak mama yang manja.” Dana melirik Mia.
“Ih,
enak aja nuduh!” Mia melempar botol plastik bekas air mineral ke arah Dana. Dana
tertawa lepas. Pipi Mia memerah.
Sudah
dua kali pertemuan, Dana tak keliatan. “Memangnya Dana ke mana, sih, Kak?” Mia
tak tahan untuk tidak bertanya pada Bagus, pengganti Dana.
“Lho,
kamu nggak tahu? Dana, kan, kuliah ke Bandung.”
Bibir
Mia melongo. Dana memang bukan apa-apanya Mia. Tapi, sejak bergabung dengan
Ijoku, Dana dan Mia jadi akrab dan dekat. Bahkan Dana sering main ke rumah Mia.
Apakah itu tidak cukup bagi Mia untuk tahu berita sepenting itu dari Dana?
Mia
terpekur di kamarnya. Air mata menetes satu-satu. Gumpalan tisu bertebaran di
seluruh tempat tidur, di lantai, di meja belajar. Sakitnya hati Mia.
Mama
dan Jo terbelalak melihat kondisi Mia dan kamarnya. “Ih, Kakak, kok, pakai
tisu, sih? Sedih, sih, sedih, tapi inget, dong, Kakak sudah menghabiskan satu
pohon. Padahal satu pohon butuh waktu 6 ta … hmptt.”
Mia
membekap mulut Jo lalu mendorongnya keluar kamar. Teganya, si Jo. Bukannya
menghibur. Mia sekarang sudah tak peduli pada aksi-aksi Ijoku. Dia marah pada
Dana. Dada Mia naik turun. Tiba-tiba layar tab-nya menyala. Dana? Mia ragu,
tapi dia segera menghidupkan layar Skype. Wajah Dana yang lelah tapi penuh
senyum tampak.
“Hai
Mia apa kabar? Maaaf banget, ya, aku baru kasih kabar. Semua memang serba
mendadak. Oh ya, aku sudah minta Bagus supaya mengangkatmu jadi sekretaris
Ijoku. Mau, kan, Mia?” Senyum Dana lebar.
“Em
.. em … aku.” Mia kebingungan. Dia sudah telanjur marah, ternyata Dana masih
ingat padanya.
“Eh
Mia, itu di sampingmu apaan, sih?” Wajah Dana makin besar saat mendekat ke
layar, berusaha melihat.
“Oh
… ini prakaryaku,” Mia cepat-cepat menyambar gumpalan-gumpalan tisu sekenanya.
Di pintu kamar Mia, Jo tertawa cekikikan.
Kamis, 11 Februari 2016
Senyum Peri Gula
![]() |
| Add caption |
*dimuat di Majalah Bobo*
Peri Rupet, koki Istana Peri kebingungan. Sudah berkali-kali dia
menambahkan sari gula pada puding bit, tetap saja terasa hambar.
“Peri Rupet, kau lupa memberikan madu pada minumanku,” tegur Ratu Peri.
“Oh, tidak, tentu saja tidak,
Ratu!” bantah Peri Rupet.
Ratu Peri mengerutkan kening, hingga mahkotanya
sedikit bergerak. “Mungkin kau harus menambahkan madu lebih banyak pada minumanku,”
usulnya.
Peri Rupet menatap wadah madu di rak dapurnya
yang hampir kosong. “Baiklah.”
Tetapi, tak hanya koki istana yang kebingungan
karena makanannya tak enak. Peri-peri lain tak kalah terkejut.
“Kenapa buah apelnya tak berasa?”
“Bah! Bah! Ceri ini asam sekali!”
“Peri Sacharosa! Mengapa semua buah menjadi asam?”
Teriak para peri. Peri Sacharosa yang sedang berayun-ayun di dahan pohon ceri
terkejut. Seharusnya itu pekerjaan Peri Swesa. Menaburkan serbuk manis pada
semua tanaman. Tapi, Peri Swesa sedang sakit. Salah satu peri gula harus
menggantikannya. Ratu Peri menunjuk Peri Sacharosa menggantikannya.
“Masakanku jadi tak karuan. Kau pasti salah
meramu serbuk gulamu!” tuduh Peri Rupet.
Peri Sacharosa jengkel sekali. Kedua ujung
bibirnya melengkung ke bawah beberapa senti. “Aku sudah melakukan tugasku
sesuai petunjuk Peri Swesa. Aku menambahkan dua takaran serbuk manis pada apel,
satu takaran pada ceri, empat takaran pada sugarwood, kelengkeng, melon .…”
Semua peri saling berpandangan. Peri Rupet terdiam.
“Kalau begitu, pasti ada yang salah,” katanya sebelum meningalkan Peri Sacaharosa
diikuti peri lainnya.
Peri Sacharosa mengayun dahan ceri
kencang-kencang hingga suaranya berderak-derak. Dia sangat kesal. Bayangkan
saja. Dia harus bangun paling pagi di antara semua peri, bahkan lebih pagi
daripada matahari. Tak ada siapa-siapa kecuali peri angin yang suka bermain
dengan tongkat anginnya hingga udara menjadi sangat dingin.
Peri Sacharosa harus terbang dari satu ranting
ke ranting lain, dari satu pohon ke pohon lain. Jari-jarinya sibuk bergerak
menabur bubuk manis.
“Huh, huh, huh!” Tangan Peri Sacharosa bergerak
ke sana-ke mari dengan jengkel, membuat hewan-hewan mungil yang sedang asyik
bersantai terbang ketakutan.
“Peri Sacharosa!” panggil Ratu Peri. “Minggu
depan akan ada pertemuan peri. Jangan sampai memalukan tamu karena kau tidak
melaksanakan tugasmu dengan baik.”
Peri Sacharosa menekuk satu lututnya lalu
membungkuk tanpa suara. Tak ada senyum di wajahnya. Dia jengkel sekali karena
semua orang menuduhnya tak bisa bekerja.
Peri Sacharosa bergegas ke dapur. Dia segera
meramu bubuk manis seperti petunjuk Peri Swesa. Suara sendok, tongkat pengaduk,
botol kaca, bejana, menimbulkan suara berisik. Peri Sacharosa bekerja dengan
wajah bersungut-sungut. Mulutnya mengerucut. Langit masih gelap, ketika Peri
Sacharosa memeluk bejana dengan tangan kirinya. Mulutnya makin mengerucut.
“Hap!” sesendok serbuk dia taburkan dengan kesal
pada bunga-bunga ceri yang sedang mekar. Peri Sacharosa bekerja dengan cepat.
Dengan bibir tertutup rapat. Sayapnya bergetar dari satu pohon ke pohon lain. Hari
mulai terang ketika dia menyelesaikan tugasnya.
“Selamat pagi, Peri Sacharosa!” sapa Peri Angin
tersenyum manis.
“Pagi,” jawab Peri Sacharosa hampir tanpa
menggerakkan bibirnya.
“Hari pasti akan lebih manis jika kau mau
menunjukkan sedikit senyummu,” tegur Peri Angin sebelum terbang berputar di
antara dedaunan.
Peri Sacharosa berkacak pinggang di atas daun
anggur. Ujung bibirnya berkerut, seperti dua sungut. Peri Sacharosa lalu beristirahat
sambil berayun-ayun di batang anggur yang melengkung.
Hari ini istana sangat ramai. Pertemuan peri
akan dilaksanakan. Peri Rupet sangat sibuk membuat makanan.
“Peri Sacharosa! Lagi-lagi kau salah meramu
serbuk manismu!” Dia mengecapkan lidahnya.
“Tidak!” bantah Peri Sacharosa. “Aku tidak salah!
Aku meramu seperti yang diajarkan Peri Swesa.” Peri Sacharosa berdiri tegak di
depan Peri Rupet. Matanya berkilat karena jengkel.
“Kau yakin?” Peri Rupet mengernyit lalu
mengetuk-ngetuk dahinya dengan sendok kayu. “Pasti ada yang salah dengan
ramuannya,” gumamnya. Dia masih mengetuk-ngetukkan sendok kayunya saat meninggalkan
Peri Sacharosa.
Peri Sacharosa kebingungan. Lagi-lagi serbuk
manis yang dia taburkan tak mempan. Dia duduk di atas batu hijau. Tangannya
menopang dagu. “Pasti ada rahasia yang disembunyikan oleh Peri Swesa dariku,”
gumamnya. “Aku harus mengamati benar-benar saat Peri Swesa membuat ramuan.”
Syukurlah Peri Swesa akhirnya sembuh juga. Sambil
membantu, diam-diam Peri Sacharosa mengamati Peri Swesa saat menaburkan ramuan
ke dalam bejana dengan riang. Sesekali terdengar senandung dari bibirnya. Dapur
dipenuhi irama.
“Peri Swesa, aku membuat ramuan sama persis
seperti yang kau lakukan. Tapi, kenapa semua menjadi hambar dan asam?” Peri
Sacharosa ikut menyendok ramuan ke dalam bejana. “Apakah kau mempunyai rahasia
yang aku tak tahu?”
“Aku tak punya rahasia,” Peri Swesa menjawab
santai. “Ayo segera keluar. Mereka sudah menunggu serbuk kita.” Peri Swesa
terbang dengan riang. Peri Sacharosa mengikuti dari belakang, meskipun belum
puas dengan jawaban yang dia dengar.
“Hai, Peri Angin!” sapa Peri Swesa sambil tersenyum.
Udara menjadi sedikit hangat. “Halo apelku yang manis!” Peri Swesa tak berhenti
tersenyum sambil menaburkan serbuk manisnya. Apel itu bergoyang. Ada dua garis
cahaya melengkung seperti senyuman. Setiap Peri Swesa menaburkan serbuknya,
mereka bergoyang sambil memamerkan dua garis cahaya.
“Aneh sekali,” Peri Sacahrosa menatap buah-buah itu
dengan heran.
“Apa yang aneh?” Peri Swesa tersenyum melihat
Peri Sacharosa yang kebingungan.
“Jadi benar kau punya ramuan rahasia?” tebak Peri
Sacharosa dengan mulut mengerucut. “Dan aku belum boleh tahu?”
“Tidak. Tak ada ramuan rahasia,” Peri Swesa
menggeleng. “Kalau kau ingin tahu, ikuti petunjukku.” Peri Swesa sudah
mendengar keluhan warga istana.
Peri Sacharosa mengangguk.
“Sekarang, tunjukkan gigimu. Jangan telalu
lebar. Tarik bibirmu ke kiri dan ke kanan. Tahan 5 hitungan.”
Peri Sacharosa menurut. Kini mulutnya tak lagi
mengerucut seperti biasanya.
“Nah, sekarang taburkan serbuk pada buah plum.”
Batang buah plum bergoyang dan dua garis cahaya
memantul dari kulitnya. Peri Sacharosa membelalak senang. Sepanjang pagi,
senyum Peri Sacharosa mengembang. Kebun istana tampak lebih meriah.
Batang-batang pohon meliuk seperti penari. Buah-buah ikut bergoyang. Sebelum
matahari terbit, Peri Sacharosa sudah menyelesaikan tugas dengan sempurna.
Keesokan harinya, sepiring kue berwarna biru
buatan Peri Swesa menghiasi meja makan para peri.
“Hm … akhirnya aku dapat membuatkan kue manis
untuk Ratu Peri dan kalian semua.” Peri Rupet menepuk tangannya tanda puas.
Peri Swesa menoleh pada Peri Sacharosa. Mereka
tersenyum penuh rahasia.
Langganan:
Postingan (Atom)





